Merdeka atau “Mati”

Sangat  disayangkan apabila belajar hanya di artikan dan diakui dalam bentuk formal saja. Belajar bisa dimana-mana, di jalan, pasar, jalan, di tengah keramaian, di kelas, bawah pohon, atau dimana saja. Seperti orang bijak bilang, “semua yang ada disekitar kita adalah guru”. Bukan hanya lulusan perguruan tinggi saja yang bisa menjadi guru, atau yang berseragam dan berada disekolah saja yang disebut guru. Pengemis, pemulung, tukang sampah, tukang becak atau kenek mikrolet pun bisa menjadi guru kita.

Di Indonesia, masih  banyak juga penilaian dan pandangan umum yang mengkaitkan belajar dengan usia, yang berpendapat bahwa yang wajib belajar itu hanyalah anak-anak dan kawula muda. Sedang yang tua tidak layak untuk belajar.  Lalu, bagaimana kalau kita juga melihat di Negara lain? Hong Kong misalnya, ketika banyak organisasi-organisasi manula yang sangat aktif, atau training centre-training centre dan juga panti jompo yang khusus di adakan untuk memberikan fasilitas belajar kepada nenek kakek ini? Ketika badan tak sepenuhnya bisa digerakkan, bahkan membutuhkan bantua orang lain untuk membantunya, mereka masih semangat untuk belajar dan tidak ingin ketinggalan jaman.

Seperti dalam kampus tempat saya belajar juga, yang banyak sekali mahasisiwa-mahasisiwi nya adalah manula, mereka bahkan jauh lebih rajin dari mahasisiwa mahasiswi muda. Sungguh jauh di banding dengan keadaan di Indonesia. Mungkin ini pula yang menjadikan Indonesia hanyalah negara berkelas pekerja kasar, karena tidak ada kesadaran untuk arti pendidikan yang sebenarnya, bahkan disalah gunakan. Uang adalah segalanya, dirajakan bahkan menginjak-injak masa depan bangsa pun di lakukan hanya untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, masuk ke kantong masing-masing. Bahkan mereka orang “tinggi” berlomba untuk memenuhi kantong mereka sendiri. Aji mumpung konon, dan dikatai sebagai tikus, anjing, atau apapun bukan lah hambatan dan asing di telinga mereka.

Seorang kawan yang sependapat, menyimpulkan, Indonesia tidak memiliki kualitas pendidikan, bahkan yang ada hanyalah penjualan ijasah. Anak-anak dan usia sekolah dijejali dengan kurikulum-kurikulum yang di rekayasa oleh orang-orang yang berkuasa, mereka membolak-balikkan sejarah sesuai dengan kepentingan mereka dan golongan mereka; seolah benteng-benteng itu semakin ditinggikan diantara otak-otak generasi yang dia kuasai. Lalu dibutakan dengan kepekaan perkembangan diluar sana. Menstatuskan budaya atau mengagungkan adat istiadat yang masih kental  atau di kental-kentalkan sebagai tameng, lalu hasilnya hanyalah akan menjadi supporter untuk mereka mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Ah, kembali lagi ke topik intinya juga akhirnya.

Banyak sekolah-sekolah tak layak, anak-anak yang tidak berpendidikan, bahkan kesejahteraan yang tidak pernah dikenyam rakyat kecil, dan mereka yang di atas masih saja menagung-agungkan monopoli mereka, kepemimpinan mereka.  Dan, apalah kepemimpinan? Siapa mereka sebenarnya?

Tidak banyak yang berfikir kesana, karena otak-otak itu telah diracuni dengan bualan-bualan dan juga batasan-batasan yang mereka ciptakan melalui berbagai cara, yang dilumuri dengan madu, dengan penyedap rasa, atau bahkan dengan mentah-mentahnya.

Lalu, bagaimana dan apakah tujuan mereka?

Ketika kita semua “goblok”, dan masuk dalam rekayasa keadaan yang mereka buat, datanglah berbondong-bondong, berdalih orang baik dan budiman, merayu dan iming-imingkan uang untuk mereka, kita di jual, dan tentu pula, untuk mempertahankan posisi nya sehingga tikus-tikus berikutnya yang sudah panjang mengantri masih di perlambat untuk mendapatkan giliran makan “keju” nya.

Bagaimana tidak? Ketika bangsa lain berkesempatan mengikuti bahkan di dorong untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bangsa Indonesia sibuk mentargetkan penjualan penduduk nya yang sekali lagi, untuk menambah isi karung-karung kekayaan para “pilihan rakyat” itu. Tanpa memikirkan perlindungan, tanpa memikirkan tanggung jawab, dan masih juga, ada dan ada saja cara mereka untuk memeras rakyat kecil yang sudah terjual pula ini. Berbagai peraturan beserta topeng-topeng nya, atau bahkan sekarang lebih berani lagi karena tidak perlu menggunakan topeng, “obsollete’ istilah nya, mereka keluarkan, deklarasikan, dengan muka tembok nya untuk ekploitasi dan diskriminasi pada yang kecil dan semakin dibuat kecil itu.

Oh, sungguh Negara ini semakin buruk rupa saja, atau bahkan sudah tidak ada muka sama sekali, teguran, dari para “tetangga” pun tidak masuk telinga, bahkan semakin dan semakin saja. Lalu, siapa yang bertanggung jawab? Hey orang kecil, rakyat jelata, masih belum sadarkah? Atau benar kata Pramodya Ananta Toer : “.. Barangkali engkaupun akan menuduh mengapa aku tak berbuat lain daripada mereka. Tetapi akupun tahu, bahwa engkau tidak melupakan sjarat ini: KEKUASAAN. Kekuasaan ini akan ditelan lahap-lahap oleh tiap orang, tetapi tidak setiap orang tahu tjaranja mendapatkan dan menelannja…”.

Ya, dan kita rakyat kecil adalah yang tidak punya kekuasaan itu, sedang mereka yang telah kita ataskan telah berubah menjadi kutjing-kutjing yang selalu melahap apasaja di hadapannya.  Selama kita juga masih bersedia menjadi makanan “kutjing”.

Tuhan tidak akan menjatuhkan rejeki langsung dari langit, Tuhan tidak akan mengatur nasib hambanya, Tuhan menciptakan semua ini untuk kita berusaha, bukan hanya diam dan menerima saja. Pemerintah bukan lah Tuhan, jadi, siapa penentu hidup dan masa depan kita? Ya kita sendiri tentunya. Memperkaya pengetahuan dan juga tidak terpancang pada aturan-aturan “kerukan” itu salah satu jalannya. Kemerdekaan itu bukan hanya bebas dari jajahan kompeni atau nipon. Tapi kemerdekaan yang sebenarnya adalah ketika sungguh tidak ada halangan untukmu mengeksplorasikan ide dan pemikiran dalam kehidupanmu. Negara hanyalah sebutan untuk lebih menertibkan atau mengkiaskan kesatuan. Dan kalau hal itu sudah tidak ada dalam sebuah “negara’, apakah kita juga akan rela-rela saja, ikhlas-ikhlas saja ditindas oleh “kerbau-kerbau” yang sebenarnya dungu itu? Eh, bukan kerbau malah, sungguh carilah isitilah yang tepat untuk menamai mereka.

Kebebasan untuk menjadi diri sendiri bukan berarti memberontak, Karena begitu kita memahami arti kebebasan itu, secara otomatis kita juga paham batasannya, sehingga tidak melonjak pada batas kebebasan orang lain.

Kebebasan berfikir, bersikap, dan menentukan nasib. Dan coba renungkan pula dengan semboyan pemberani “merdeka atau mati”. Bukan mati dalam artian yang sbebenarnya, tapi pencernaan lebih luas, mati kemerdekaan, dan nikmat-nikmat saja dijajah oleh bangsa sendiri. Mati kesadaran, dan senang-senang  saja didiskriminasi. Dan mati kemerdekaan, karena seumur hidupmu hanya kau serahkan pada para saudagar-saudagar penjual bangsanya sendiri itu.

Mari mulai kita renungkan, dan mari mulai kita tentukan, mana pilihan anda:

Merdeka atau Mati.

Iklan
Dipublikasi di aktivitas | Meninggalkan komentar